Sudah Diberi Pakan Banyak, Kok Sapi Tidak Kunjung Gemuk?
Pernah mengalami hal seperti ini?
Setiap hari rumput diberikan, konsentrat sudah ditambahkan, bahkan biaya pakan terus meningkat. Namun, ketika melihat kondisi tubuh sapi, hasilnya masih jauh dari harapan. Badannya tetap kurus, pertambahan bobotnya lambat, dan keuntungan peternakan belum juga meningkat.
Sementara itu, ada sapi milik peternak lain yang terlihat lebih berisi meskipun jumlah pakannya tidak jauh berbeda.
Sebenarnya, apa yang terjadi?
Jawabannya: banyak makan tidak selalu berarti kebutuhan nutrisi sapi sudah terpenuhi. Ada beberapa faktor yang menentukan apakah nutrisi dari pakan benar-benar dapat dimanfaatkan tubuh untuk pertumbuhan.
Mari kita bahas satu per satu.
1. Pakan Banyak, tetapi Kandungan Nutrisinya Kurang
Ini merupakan hal pertama yang perlu diperiksa.
Rumput yang diberikan dalam jumlah banyak belum tentu menyediakan energi dan protein yang cukup untuk mendukung pertumbuhan. Kualitas hijauan dapat berbeda tergantung jenis tanaman, umur pemotongan, kondisi tanah, dan cara penyimpanannya.
Rumput yang terlalu tua, misalnya, cenderung memiliki serat lebih tinggi dan lebih sulit dicerna dibandingkan hijauan yang dipanen pada umur yang sesuai.
Akibatnya, sapi bisa terlihat makan dengan lahap, tetapi pertambahan bobot badannya tidak optimal.
Apa yang bisa dilakukan peternak?
- Pilih hijauan berkualitas dan tidak berjamur.
- - Sesuaikan konsentrat dengan kebutuhan sapi.
- - Pastikan pakan memiliki keseimbangan energi, protein, dan serat.
- - Sediakan air minum bersih setiap saat.
Pemberian pakan sebaiknya disesuaikan dengan bobot badan, umur, tujuan pemeliharaan, serta kondisi fisiologis sapi.
2. Jangan Abaikan Kemungkinan Cacingan
Sapi yang terinfeksi cacing saluran pencernaan dapat mengalami penurunan efisiensi pemanfaatan nutrisi. Dalam kondisi tertentu, infeksi juga dapat menyebabkan anemia, diare, dan penurunan kondisi tubuh.
Masalahnya, gejala cacingan tidak selalu terlihat jelas pada tahap awal.
Peternak perlu waspada apabila sapi mengalami pertumbuhan lambat, bulu kusam, kotoran tidak normal, atau kondisi tubuh semakin menurun.
Namun, sapi kurus tidak otomatis berarti cacingan. Pemeriksaan dokter hewan dan, jika diperlukan, pemeriksaan feses dapat membantu memastikan penyebabnya.
Pemberian obat cacing sebaiknya menggunakan produk yang sesuai dan mengikuti arahan dokter hewan, termasuk memperhatikan dosis serta masa henti obat untuk ternak yang akan dipotong atau menghasilkan susu.
3. Rumen Sapi Tidak Bekerja Secara Optimal
Tahukah Anda bahwa sapi memiliki sistem pencernaan yang sangat bergantung pada aktivitas mikroorganisme di dalam rumen?
Mikroorganisme tersebut membantu memfermentasi serat dari hijauan menjadi sumber energi yang dapat dimanfaatkan tubuh sapi.
Namun, keseimbangan rumen dapat terganggu jika peternak melakukan perubahan pakan secara mendadak, memberikan konsentrat berlebihan, atau tidak menyediakan serat yang cukup.
Ketika fungsi rumen terganggu, konsumsi pakan dan pemanfaatan nutrisi dapat menurun.
Karena itu, perubahan ransum sebaiknya dilakukan secara bertahap. Jangan hanya mengejar banyaknya konsentrat tanpa memperhatikan kebutuhan serat dan keseimbangan nutrisi.
4. Sapi Mengalami Stres Panas
Cuaca panas bukan sekadar membuat sapi terlihat kepanasan. Stres panas juga dapat mengurangi konsumsi pakan dan mengganggu performa pertumbuhan.
Tanda yang dapat diamati meliputi:
- Napas lebih cepat atau terengah-engah.
- - Lebih banyak mencari tempat teduh.
- - Konsumsi pakan menurun.
- - Lebih banyak minum.
- - Aktivitas dan pertumbuhan terganggu.
Untuk mengurangi dampaknya, peternak dapat memperbaiki ventilasi, menyediakan naungan, memastikan air minum selalu tersedia, serta mengatur pemberian pakan agar lebih sesuai dengan kondisi cuaca.
5. Ada Gangguan Kesehatan yang Tidak Terlihat dari Luar
Tidak semua penyakit pada sapi langsung menunjukkan gejala yang mencolok.
Gangguan kronis, penyakit metabolik, masalah gigi, maupun penyakit lain dapat menyebabkan sapi kesulitan memanfaatkan pakan secara optimal.
Karena itu, apabila sapi tetap kurus meskipun ransum sudah dievaluasi, jangan terus menambah pakan tanpa mencari penyebabnya.
Perhatikan juga perubahan perilaku, suhu tubuh, kondisi kotoran, kemampuan mengunyah, serta pola makan.
Jika bobot terus turun, sapi tampak lemah, mengalami diare berkepanjangan, atau tidak mau makan, segera mintalah pemeriksaan tenaga kesehatan hewan.
6. Kesalahan yang Sering Dilakukan: Langsung Menambah Konsentrat
Saat sapi tidak kunjung gemuk, sebagian peternak langsung meningkatkan jumlah konsentrat.
Padahal, jika penyebabnya adalah penyakit, kualitas hijauan yang buruk, atau gangguan rumen, penambahan konsentrat belum tentu menyelesaikan masalah.
Pemberian konsentrat berlebihan juga dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan, termasuk asidosis rumen, terutama jika diberikan dalam jumlah besar sekaligus atau tanpa penyesuaian ransum yang tepat.
Langkah yang lebih baik adalah mengevaluasi kondisi sapi, kualitas pakan, jumlah konsumsi, dan manajemen pemberian pakan terlebih dahulu.
7. Cara Mengetahui Apakah Sapi Benar-Benar Bertambah Bobot
Jangan hanya mengandalkan penglihatan.
Sapi yang tampak lebih besar belum tentu mengalami pertambahan bobot yang sesuai target. Perubahan kondisi perut setelah makan juga tidak selalu mencerminkan pertumbuhan jaringan tubuh.
Jika memungkinkan, timbang sapi secara berkala menggunakan timbangan ternak. Catat bobot badan, konsumsi pakan, dan kondisi kesehatannya.
Pertambahan bobot badan harian dapat dihitung menggunakan rumus:
Pertambahan bobot badan harian = (Bobot akhir − Bobot awal) ÷ jumlah hari pemeliharaan
Sebagai contoh, sapi memiliki bobot awal 300 kg dan bobot akhir 330 kg setelah 60 hari.
Pertambahan bobot badannya adalah:
30 kg ÷ 60 hari = 0,5 kg per hari.
Angka tersebut merupakan contoh perhitungan, bukan target universal. Target pertumbuhan perlu disesuaikan dengan jenis sapi, umur, genetik, pakan, dan sistem pemeliharaan.
Kesimpulan: Cari Penyebabnya Sebelum Menambah Biaya Pakan
Sapi yang makan banyak tetapi tetap kurus dapat mengalami berbagai masalah, mulai dari kualitas nutrisi yang kurang, infeksi cacing, gangguan rumen, stres panas, hingga penyakit tertentu.
Kuncinya bukan sekadar memberikan pakan sebanyak mungkin, melainkan memastikan sapi memperoleh nutrisi yang tepat dan mampu memanfaatkannya dengan baik.
Peternak juga perlu memantau pertambahan bobot secara berkala agar hasil pemeliharaan dapat dievaluasi berdasarkan data, bukan hanya perkiraan.
Ingat, pakan yang banyak belum tentu menghasilkan pertumbuhan yang maksimal. Pakan yang tepat, manajemen yang baik, dan kesehatan ternak yang terjaga adalah kombinasi penting dalam keberhasilan usaha peternakan.